In the end , your blog'll be your last listener

Sabtu

memori ( sahabat karib )



Aku ingat



Bahwa aku mempunyai sahabat baik, dia sangat unik, terkadang orang menyebutnya si –indra keenam. “Memori” , begitu biasa aku memanggilnya.Hidupnya sangat bebas tanpa tekanan. Tak pernah memihak, tak pernah membedakan apa yang sering homo sapiens lakukan, melabeli sesama spesies dan produknya yang kerap disebut dengan baik dan buruk. Dia jauh lebih dari itu, kesehariannya hanya berjalan-jalan (enak sekali, sejujurnya aku iri).

Kalian harus tau bahwa persahabatan yang sejati tak terhapus jarak dan waktu, rasial dan hal-hal macam itu. Itu sebabnya memori punya sahabat yang tak terbatas, buktikan saja sendiri. Jahatnya, ia kerap membawa sahabat-sahabatnya(yang beberapa juga sahabatku, dan diriku termasuk juga), apa ya namanya ? mungkin terpaksa harus mengikutinya berjalan-jalan meski seberat apapun tugas dan kewajiban itu menunggu. Akibatnya tebak saja sendiri.







Hari ini hari sabtu, dan sudah seharusnya aku yang notabene sudah berumur tidak muda tahun ini pergi melancong, bertamasya, apapun kau sebut itu ke manapun juga, baik sendiri, bersama sahabat , maupun sama mahkluk spesial. Namun yah namanya juga fakta, sangat sadis kata Bu Jati, guru kelas 2 sd ku di sebuah sd (sekolah dasar) ternama di sebrang tugu pahlawan yang terkenal di Surabaya ( yang selalu buatku bangga saat menyebutnya). Apa kejamnya ? Fakta saja aku tak mengerti, bahkan tak terlintas dalam pikiranku untuk memeriksanya dalam KBBI, yang baru kukenal pada saat menggunakan seragam putih biru itu. Yang kutau hanya makan bakso peluru yang terkenal enak dan murah setiap pulang sekolah jam sepuluh waktu itu. Menyesal harusnya kutanya pada bu guru waktu itu, jika saja bukan Amelia yang cantik selalu ngajak ngobrol setiap hari.
Jam dinding di kosan ini sudah cukup renta, namun ia tetap setia menegur dan mengigatkanku, wajar saja dari saat diajar oleh Bu Jati, ia sudah menegurku untuk sikat gigi di kamar mandi yang berada di sebrang gudang yang menyeramkan dan….. ah sudahlah, lagi-lagi si memori mengajakku jalan-jalan dan tidak fokus. Jam dinding ( maaf lupa memberinya nama dengan satu kata) juga menginformasikan, hari ini hari sabtu, tangan pendeknya ada pada angka 3 , langit menjadi semakin kuning sehingga kusadari pastilah ini sudah sore dan pertanda perang dimulai

Kubuka jadwal hari ini untuk melihat to-do list ku , hasilnya mengejutkan :
1.       Desain resto café,
2.       Buat draft malam ini , denah, blok plan, fasad (setidaknya garis besarnya saja)
3.       Buat peta potensi angkatan
4.       Baca habis dua novel
5.       Betulin layar proyektor( yang patah pas sosialisasi angkatan)
6.       Nyiapain jualan danus buat car free day
7.       Nyiapin bentukan buat rapat pertunjujkan instalasi besok
8.       Maket studi

Sialan kau jurnal, kau kira aku superman, dengan super accelerate dalam sisa 9 jam sampai minggu subuh besok. Harus kumulai dari mana dulu tumpukan tugas ini. Meskipun sudah kutau jawabannya. Tentu saja desain, 2 kali asistensi kuhabiskan untuk mengerjakan acara angkatan yang tidak jelas ujung pangkal dan progressnya. Habislah sudah dihajar asisten dosenku yang baik.


Tapi tentu saja kutau bahwa membuat peta potensi angkatan juga tak kalah pentingnya, karena Rei, ketua acara sudah mencak-mencak stress  ( aku juga stress tau). Tapi dia sangat bertanggung jawab dan sangat ku hargai atas seluruh usahanya yang selalu sepenuh hati






Sudah kuputuskan, kubalik semua kertas desain dan nama- nama angkatan dan memanggil sahabat baikku. Ini semua karena hati dan jiwa sedang terbang entah ke mana tak  kutemukan. Juga niat untuk melakukan sesuatu yang berguna. Mungkin berada di tahapa galau, terserah jika kalian kerap panggil ku skip atau apapun itu. Hati ini sedang pilu rindu akan suatu masa, masa yang sangat disesalakan tak dapat kuputar kembali.

BBM(blackberry messeger) berbunyi, ya sekarang sudah zaman modern, bukan saatnya pakai handphone dengan serial kode nomor dan huruf seperti kode agen-agen eksekutor pada zaman kemerdekaan lagi.
heh, lagi apa chady  ?, itu pasti Angel, dia yang kerap memanggil namaku dengan embel-embel huruf Y yang nista itu.

Ya ngel, kenapa, lagi apa lu ?
Ternyata dia hanya sedang stress menghadapi nilai-nilai yang diujung tanduk, dan uts yang terbang dengan cepat (padahal kampusku sudah mau uas). Entah salah kuliahnya, atau memang kampusnya yang mahal jadi terkesan special. Setelah banyak ngobrol dia berkata
Emang nih bulan ini ,ckckckck, coba gw punya mesin waktu,
Haha, ia ngel (dan aku hanya bisa membalas dengan emoticon senyum yang jarang kupakai)

Ia lebih memilih mesin waktu itu untuk terbang melintasi batas ruang waktu memperbaiki semua kesalahannya yang merusak nilai-nilainya. Namun jika aku boleh memilih, aku akan menggunakannya untuk memperbaiki hubungan ku dengannya di mana, ia pernah menjadi sangat special, hanya saja, dan jika saja memang ada mesin waktu, aku terdiam.

_____________________________________________________________________




Akhirnya memang tak kupunya mesin waktu, namun ternyata sahabatku membawaku ke dimensi lain. Melintasi serangakaian proses.

Dan terbangunlah , yang kutemukan diriku pada tempat tidur yang sangat nyaman. Langit-langit dengan susunan plat beton tanpa plafon (bodohnya sipil dan arsiteknya) ah ya sudahlah karena baru kuingat ternyata tempat ini adalah bekas kamar dan rumahku (-ku itu artinya yang sudah ayah ibu kontrakkan, bukan punya kami)

Kuperhatikan saja sprei tempat tidur berwarna biru ini, dengan tokoh jagoanku, duet batman dan robin dengan pose penyelamat kebenarannya terhimpit dengan selimutku yang bergambar suatu lambang aneh, dan baru kusadari ternyata lambang MU( Man United). Dingin namun pengap kamar tanpa hidung ini, tapi aku rindu, rindu akan sesuatu.

Tidak bisa tidur, menendang-nendang dinding kamarku yang ternyata hanya partisi. Kupegang handphone 3650iku( sedih sekali handphone masih berseri pembunuh bayaran). Kuketik-ketik sampai jam tua memanggilku tanda pukul 10 malam. Tau apa artinya ? artinya sebentar lagi handphone bersejarah ini akan berbunyi, dengan nama penelfon “nyuruh tidur” (ya pasti itu ibuku), yang kalau tidak kuangkat pastilah akan menyusul bunyi keras, tanda pintu panel berwalpaper polkadot itu terdobrak, dengan cerewet ia akan mematikan lapu dan tidur di bawah kasur ku ( ya itu juga pasti kakakku). Namun tetao saja menghalangi papipop bunyi ketikan handphone jadul itu tetap terdengar dengan semangat, karena aku sedang kasmaran.

 Tidak banyak orang yang ingin mencari tahu definisi dari kasmaran itu apa, tidak juga denganku, jelas saja karena lebih baik minum melegakan gigi yang kering karena tak berhenti tersenyum daripada membuka KBBI ( zaman itu internet masih berisik tot tet tot).

Waktu terbang tak henti aku tak peduli, ini lah yang kucari , sesuatu yang hilang hampa tak berarti pada saat ini, hanya sahabatku yang dapat membawanya kembali,sang memori. Biar ibuku, ibumu, ibunya, ibu si Paiyo tukang sayur bilang ini cinta monyet.

 Kurasa monyet sangatlah beruntung, bisa merasakan hasrat tanpa pretensi tanpa pertimbangan tanpa kebimbangan tanpa kebohongan tanpa kebangsatan tanpa kepalsuan, tanpa SAKIT HATI.

Dan yang hanya bisa membuat sang monyet merasakannya hanya seorang gadis. Vivian. Bahwa detik ini pun teringat betapa kebersihan hatinya yang dapat dirasakan semua orang, wajahnya bersinar dan setiap kata-katannya membawamu ke dimensi lain. Dia sosok lain gadis yang tidak peduli pada segala hal-hal tidak penting. Dia mencintai ilmu yang dapat ditelannya, bahasa, musik, dia luar biasa.

Setidaknya untuku, yang gendut tak berbentuk saat itu, sampai tak setitik manusia pun dapat menerima hal yang lebih aneh dari fiksi ini. Setiap ia tersenyum, aku tak keberatan hari ini dipenuhi dengan duka. Apapun masalahku, sampai yang paling tidak penting pun ia ada untuku. Meskipun kami hanya berseragam putih biru.

Dia dewasa dan sempurna. Tapi sahabatku tau, dan mengerti, dan ia terbang membawaku dan memelukku dalam ingatan terindah. Yaitu , ia mencintaiku apa adanya, ia mencintaiku bukan dalam ketampanan, kekayaan, kehebatan dan segala kelebihan. Dia mencintaiku dengan diriku yang memang diriku. Yah indahnya masa itu, dan habisi hariku dalam penyesalan, mengapa aku harus dewasa.

Dewasa pun seharusnya indah, jika saja ia pencuri hati perdana ku itu duduk di sini sekarang, memandangku penuh kasih, dan berkata semua akan baik saja adanya. Pastilah to-do list itu akan segera tercentang dengan ceria, terlebih ia tersenyum, memainkan satu dua music, piano, organ, bahkan hanya sekedar bernyanyi. Merobek pandanganku , mengambil pahat dan menghancurkan kulit bebatuan dari hatiku, yang harus kau tau ini bukan cerita roman yang indah.

Lain lagi halnya jika ia menggenggam tanganku saat ini, pasti kastaku meloncat tinggi menuju brahmana abadi, hanya diam dan kekal dalam keabadian, tak seperti sudra labil tak terduga,kasian juga. Berbeda , tidak sama halnya sejuta wanita menggenggam tanganku, ia berbeda, dan ia sungguh sesuatu. Nafasku memberat , degap jantungku dapat kau sandingkan dengan penderita polio yang harus sprint keliling monas saat tujuhbelasan.  Tak keruan……



Memori bawa aku pergi, lebih , lebih jauh lagi



Sekarang aku yakin di mana diriku berada. Di sekolah menengah ternama dalam sebuah kota kecil dan tenang dalam profinsi Riau, Sumatra. Dengan kaos kaki selutut dan sepatu hitam legam (tak akan berani aku melawan pada Eri). Sedang berada dalam perdebatan tentang kelebihan dan kekurangan jalur sutra sebagai jalur perdagangan dan diplomasi.
“Kamu boleh memberikan kesimpulan, sebagai pemenang dari perdebatan ini”, kata-kata pak Eri yang paling kuingat saat itu, kata-kata yang membuatku mendapat hadiah hidup.
Dari meja kayu peserta debat yang penuh coret-coretan type-ex itu aku menemukan sesuatu, tentu saja bukan sekumpulan rayap dalam celah kayu yang suka membuat kertasku bolong saat melingkari jawaban, karena sudah biasa. Tapi aku tertawa geli melihat dua buah bulatan (yang niatnya ingin buat kepala) dengan nama Vivian (love) Richard.
 Dia bukan tipe gadis seperti itu, dia misterius, dan menarik seluruh isi jiwaku, dia tak pernah bilang diasayang , atau kata-kata yang kerap berterbangan dari mulut bocahbocah tengik smp sok tau sok pintar.
“pssst, kapan mau  kau cium dia? Sialan cakep banget lagi”, sahut Rudy sahabatku selain memori. Aku hanya bengong melihat wajahnya yang sedang tersenyum bersilau di kursi belakang. Tidak aku tidak perlu semua itu. “senyumnya lebih indah dari nafsu bulukmu Rud”. Aku terdiam.Puas
Lebih jauh lagi, lebih jauh
Bulan itu bulan mei, pertama kali bioskop di buka di kotaku. Semua senang dan berbondong. Dasar katro irlander kata ayah ibuku. Padah anaknya juga irlander, tragis. Baju oklay  berwarna hitam baru dibelikan ibu dan besar seperti daster yang aku pakai waktu itu. Berbeda dengan Vivian yang menggunakan polo ketat garis-garis hitam merah (indah luar biasa tubuhnya, lebih luar biasa lagi sahabatku memori mengingatnya). Menonton “Superman return”, kau genggam tanganku. Aku terbang melayang



Tolong
Tolong bingkai waktu ini, penjarakan aku, karena aku tak ingin kembali
Aku ingin tetap di sini, aku ingin kau tetap menggenggam tangan ini dengan cinta, aku ingin kau menggenggamnya dengan hasrat. Aku ingin kau tetap Vivian , jangan pergi dan berubah.

Hey memori jangan tarik aku, segenap jiwa meronta tak bisa, tangis pun tak bisa menahan, teriakku tak terhenti tak menghentikannya. Biarkan aku terjebak dalam dirimu, dan bawa aku kembali.
Tak mau ? kalau gitu ajak ia bersama kita, aku butuh dirinya, dalam hidupku, buat aku lupa saat perpisahan, dan mengapa harus terjadi, anggap saja aku lupa , aku butuh ! tolong aku
.
Sekarang aku berada dalam nuansa kurungan memori menuju dunia asli, penuh cuplikan hidup yang kelam dan tragis di kanan dan kiriku, refleksi seakan berhenti, tak dapat kutemukan cahaya untuk kembali, hanya tangis yang terjadi. Kumohon aku ingin kembali, bawa saja aku lagi bersamanya.


Vivian Vivian Vivian, dan aku tak dapat berfikir.
Apakah kau sahabatku, atau harus ku benci ? Hai memori.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar