penderitaan itu
buat si prajurit lari menengok kepadaku
dia tak ingin melepas kata, "biar kau lepas milikmu", katanya
pedih, mataku kering tak bisa mencair beku pun tidak
hati pedas namun tak ada yang bisa kutengok dan dapat kubilang, "kau saja yang melepas kata-mu"
sesak pisau pun tak ada, ingin hujam jantung ini
yang sejujurnya
belum pernah ia bertemu mata di mana spesifik ia tinggal
pagimalamterangelap tak ada artinya
hidup tanpa pretensi, namun tidak bebas juga
kemaren aku telah berhasil menjadi bukan diriku, di hadapan teman-teman, yang mereka sebut angkatan
tragis bukan ? apa harus kulakukan juga di depan komunitas kecil yang pernah indah
biasa mereka sebut keluarga ????
kenapa aku merasa asing , atas yang seharusnya bernama keluarga ?
apa esensi sebenarnya, atas semua doktrin palsu dan wahyu kelam yang kerap kutelan
palsukah itu ? karena tak terhingga kepalsuan dan ketidak indahan tersimpan
di mana teladan-teladan omong kosong itu ? di mana kugali terlalu dalam bahkan cahaya tak tertembus katanya
kata prajurit terbirit itu benar, "dunia memang tersenyum licik dan kejam saat kau dewasa"
bagi kau merasa hidup tak kejam, ekonomimu lancar, perut tak tersiksa, ilmu tak masalah, cinta keseharian dan tak pernah kenal kepalsuan, ia sebut belum dewasa
bocah berbondong-bondong bertengkar, berteriak "kami sudah dewasa!"
(anak tolol, malah kepingin susah, tolol betul)
tolonglah ayah bunda, berjuang demi hidup, tapi juga tersesat. kami tak butuh nafkah, kami butuh cinta, kasih dan panutan (pernahkah kalian, buka kbbi, dan cari definisi cinta ? dan panutan?)
sebab tak guna ku berjuang hidup tanpa panduan, gelap , tak tau arah dan tersesat. sudah kunci mulutmu, kalian yang tak saling cinta tak usah menasehati, kami prajurit kolong rendah butuh bukti, bukan caci dan apapun kau sebut itu.
tak harus bersembunyi lari sepi, tertular dalam sumsumku juga, hingga cinta saja lari
tragis hujan turun lagi
terus menerus, sedang mataku kering pedih, dirampok dan diperas hingga habis,
tinggal tampung saja anggap milikku, atas jalan hidup
buat si prajurit lari menengok kepadaku
dia tak ingin melepas kata, "biar kau lepas milikmu", katanya
pedih, mataku kering tak bisa mencair beku pun tidak
hati pedas namun tak ada yang bisa kutengok dan dapat kubilang, "kau saja yang melepas kata-mu"
sesak pisau pun tak ada, ingin hujam jantung ini
yang sejujurnya
belum pernah ia bertemu mata di mana spesifik ia tinggal
pagimalamterangelap tak ada artinya
hidup tanpa pretensi, namun tidak bebas juga
kemaren aku telah berhasil menjadi bukan diriku, di hadapan teman-teman, yang mereka sebut angkatan
tragis bukan ? apa harus kulakukan juga di depan komunitas kecil yang pernah indah
biasa mereka sebut keluarga ????
kenapa aku merasa asing , atas yang seharusnya bernama keluarga ?
apa esensi sebenarnya, atas semua doktrin palsu dan wahyu kelam yang kerap kutelan
palsukah itu ? karena tak terhingga kepalsuan dan ketidak indahan tersimpan
di mana teladan-teladan omong kosong itu ? di mana kugali terlalu dalam bahkan cahaya tak tertembus katanya
kata prajurit terbirit itu benar, "dunia memang tersenyum licik dan kejam saat kau dewasa"
bagi kau merasa hidup tak kejam, ekonomimu lancar, perut tak tersiksa, ilmu tak masalah, cinta keseharian dan tak pernah kenal kepalsuan, ia sebut belum dewasa
bocah berbondong-bondong bertengkar, berteriak "kami sudah dewasa!"
(anak tolol, malah kepingin susah, tolol betul)
tolonglah ayah bunda, berjuang demi hidup, tapi juga tersesat. kami tak butuh nafkah, kami butuh cinta, kasih dan panutan (pernahkah kalian, buka kbbi, dan cari definisi cinta ? dan panutan?)
sebab tak guna ku berjuang hidup tanpa panduan, gelap , tak tau arah dan tersesat. sudah kunci mulutmu, kalian yang tak saling cinta tak usah menasehati, kami prajurit kolong rendah butuh bukti, bukan caci dan apapun kau sebut itu.
tak harus bersembunyi lari sepi, tertular dalam sumsumku juga, hingga cinta saja lari
tragis hujan turun lagi
terus menerus, sedang mataku kering pedih, dirampok dan diperas hingga habis,
tinggal tampung saja anggap milikku, atas jalan hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar