meski sepi, kudukmu berdiri
habisi daya akhir terpejam tidak, anganmu mengutopis ,
hilang sesat arah akal ini,
mencari jalan panjang untuk kita, hampir patah lenyap pandanganku, dalam gelap
terbang jauh tak terkejar, pukul jatuh saja harap ini
harap ?
semu sesemu praduga tak tentu, namun ia hidup
ia nyata, hai, senyum sapa ia di sisimu
memecah hening, hampa hidup, dia seluruh nafas untuk hidupmu, dia...... harap
wajah dibalik kekecewaan yang kuhirup dan keyakinan yang menusuk
ia tak hilang dalam sunyi
ia berbunyi
kutafsir ia hadir, ditengah kita, memandang , dan hidup
tumbuh dan berkembang akan ideologi dan doktrin semu dalam dirimu
ia egoisme, rasisme, independensi tak berakar rapuh tak berbekas bayangnya
ia harap, ia berbunyi
bolehkah ? jika kubagi sang naif tak tertangkap mata ini, harap
maukah ? kita memeluk dan menjaga satu sama lain, merangkul, lekukan senyum itu
dan tembakan kata indah padanya, serahkan pada sang keheningan
jawabannya,
harap,
ia berbunyi
kau tak sendiri
angkat namaku, terbang melangkahi segala batasan, terlebih kemustahilan
PERSETAN APA KATA MEREKA. hanya kau yang kupegang
kau naif harap, kau naif
tapi aku percaya
kau
dan
Arsitektur 2010 Unpar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar