In the end , your blog'll be your last listener

Kamis

Hidup Lilin


Di titik tergelap dalam kelahiran kita, engkau bertanya kepadaku, kapankah kita akan redup, tamat dan berakhir. Lalu dengarlah jawabanku : Betapa anehnya kita semua memikirkan akan masa depan dan akhir-akhir menakjubkan, bukankah kita ada, hangat , dan “present”.

Kemudian si empat bergoyang kencang seolah berkedip tanpa henti seraya sibuk menyalak mempertanyakan bagaimana caranya kita dilahirkan, dan si tiga merasa tersiksa akan panasnya bara.

Sebagai yang tertua aneh jika tidak kuluruskan semua pandangan mereka akan hidup, sangat berbeda dengan lamanya lima menit pengalaman nyalaku.

Jangan anggap dirimu sumbu, maka engkau akan terbakar dan menyalak sampai  reinkarnasimu berikutnya, jangan anggap dirimu lilin, karena kau akan kehabisan waktu dan menari-nari agar sumbu menit sialan itu tidak membabat waktumu, Jangan anggap dirimu api, karena engkau akan memikirkan kemunculanmu sembari menyiksa habis sumbu dan lilin itu.

Dan mereka hanya menari-nari, tidak peduli, dan menghitung detik-detik yang tersisa.

Keindahan adalah apa yang menarik jiwa, kepadanya cinta diberikan dan bukan diminta

Dan engkau, ini hanya hidup semata, pilihan yang cepat dan tidak terulang, dan aku terang

Bukan sumbu dan bukan bara, kita bukan lilin , tidak dengan satu menit lagi hidupku yang tersisa
Kita memang berlima di dunia gelap, namun itu bukan takdir jika semua berbeda, namun aku menikmatinya tidak meratapi, sehingga dapat aku membesar, memanas, tertawa, menertawakan engkau, mereka.

 Bagiku aku terang, tidak memikirkan kelahiran, panas dan sisa hidup, dan engkau hanya membatu.

Seolah tidak peduli, apatis dalam beberapa menit ini, hingga serat sumbu terakhir dijamah oleh cahaya hangat memanas.
Dan aku hanya tersenyum , bersiap pergi, dalam padam dan lenyapmu.
Aku bukan lilin. Lalu siapa dirimu ?



(untuk engkau yang mengalaminya)
Antonius Richard
Bandung, 23 feb 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar