hari ini mulai langit bersedih, mukanya muram , dan diam saja
tidak ada ekspresi akan menangis, meyakinkanku untuk menggembol tas dan melangkah pergi
yang ternyata langit seorang aktor yang baik, seperti sebanyakan orang-orang yang hidup berpijak pada keteguhan
merobek mata dan mencabut kelenjarnya, hingga berdarag-darah sebanyak-banyaknya, jantung pun tertawa karena diringankan bebannya. Tubuh lebih sehat dan asumsikan mereka semua bahagia.
tapi tidak denganku
detik ini aku melangkah dengan yakin di hadapan wajah muram langit, kuratapi saja dia dan terus berjalan acuh. terus menanjak, dan heran karena kemiringan jalan yang tak wajar, jarak dibanding ketinggian bahkan tidak sebanding lagi.
langkahku berat, setiap menanjak, mungkin ini kehidupan akhir-akhir ini.
jalan semakin bercabang, dan tidak yakin ujung seluruhnya, hingga kuputuskan untuk berhenti dan tak memilih, diam mematung, dan awan yang meratap.
tidak diizinkan untuk memilih, muncul sebuah jalan lancar menurun, namun tak berujung, mungkin sebuah jalan mustahil dan penuh pengorbanan, bukan jawaban untuk kondisi yang tak sungkan.
bola besar menggelinding, terkikis jalan panjang yang kasar, tetap jelas terbaca , bulan desember
jalanku sempit dan tak mampu menghindar, kecuali memilih jalan-jalan itu
yang aku tak sanggup
akhirnya desember datang, menabrak dan menggilas, membawaku ikut serta bersamanya melewati jalan menanjak semula, sakit tak terkira
hingga sampai pada titik mula keberangkatan, dan bola desember meledak,dan membawa ia di dalamnya.
ia di sini, sudah pulang, aku terdiam, dan kusadari aku tak dapat melangkah, dan tetap pada titik semula
ia tersenyum, mungkin aku akan mati
ia bicara, jantung berhenti
kenapa aku tidak bisa lupa, dan tak boleh melangkah
meski jalan lain terbuka
apa daya kaki terbata-bata
langit tertawa, sedikit murka, dan tidak lagi bermuram durja
ternyata dia sedang menonton dari posisi yang berbeda
hingga jelas kebodohanku
tolong jangan hujan, aku tidak suka
dan ingin lupa
tidak ada ekspresi akan menangis, meyakinkanku untuk menggembol tas dan melangkah pergi
yang ternyata langit seorang aktor yang baik, seperti sebanyakan orang-orang yang hidup berpijak pada keteguhan
merobek mata dan mencabut kelenjarnya, hingga berdarag-darah sebanyak-banyaknya, jantung pun tertawa karena diringankan bebannya. Tubuh lebih sehat dan asumsikan mereka semua bahagia.
tapi tidak denganku
detik ini aku melangkah dengan yakin di hadapan wajah muram langit, kuratapi saja dia dan terus berjalan acuh. terus menanjak, dan heran karena kemiringan jalan yang tak wajar, jarak dibanding ketinggian bahkan tidak sebanding lagi.
langkahku berat, setiap menanjak, mungkin ini kehidupan akhir-akhir ini.
jalan semakin bercabang, dan tidak yakin ujung seluruhnya, hingga kuputuskan untuk berhenti dan tak memilih, diam mematung, dan awan yang meratap.
tidak diizinkan untuk memilih, muncul sebuah jalan lancar menurun, namun tak berujung, mungkin sebuah jalan mustahil dan penuh pengorbanan, bukan jawaban untuk kondisi yang tak sungkan.
bola besar menggelinding, terkikis jalan panjang yang kasar, tetap jelas terbaca , bulan desember
jalanku sempit dan tak mampu menghindar, kecuali memilih jalan-jalan itu
yang aku tak sanggup
akhirnya desember datang, menabrak dan menggilas, membawaku ikut serta bersamanya melewati jalan menanjak semula, sakit tak terkira
hingga sampai pada titik mula keberangkatan, dan bola desember meledak,dan membawa ia di dalamnya.
ia di sini, sudah pulang, aku terdiam, dan kusadari aku tak dapat melangkah, dan tetap pada titik semula
ia tersenyum, mungkin aku akan mati
ia bicara, jantung berhenti
kenapa aku tidak bisa lupa, dan tak boleh melangkah
meski jalan lain terbuka
apa daya kaki terbata-bata
langit tertawa, sedikit murka, dan tidak lagi bermuram durja
ternyata dia sedang menonton dari posisi yang berbeda
hingga jelas kebodohanku
tolong jangan hujan, aku tidak suka
dan ingin lupa
suka chad (y)
BalasHapus