Saat ketika aku mati
Tidak ada yang berubah dengan langit, hanya berawan kelabu, terkadang menghilang pergi yang sering kali tak punya arti, lagi-lagi kulewati rutinitas sehari-hari yang membunuh , karakterku mati. Kemudian aku menutup mata, dan kembali tersadar seolah hanya berkedip ketika bunga-bunga bermekaran dan kupu berterbangan menari tarian selamat datang dalam kehidupan, seram dan kelam.
Namun ketika langit jenuh melihat dunia tanpa kualitas mungkin ia akan meracau, menari memaki hingga peluhnya berjatuhan deras sekali. Hingga setiap kali itu terjadi, membuat rutinitas berhenti dan semua orang akan berpikir dua kali, saat ketika aku mati.
Badanku mungkin kaku, terbaring dalam ranjang dua ratus kali Sembilan puluh sentimeter, dan bila beruntung mungkin akan banyak yang menangisiku , meski dalam bisu pun aku terharu, istriku. Satu atau dua puluh satu tak jadi soal, asal anak-anak sudah semua besar-besar. Dan orang-orang mulai terlihat bisu dan bertingkah laku seakan dunia milikku. Para penjilat mengantri menunggu kematianku, satu per satu mengambil antrian dan duduk di pojokan kamar meringkuk. Ada sibuk menawarkan peti mati pada istri ke dua puluh satu, sisanya sibuk mengeluhkan nasib anak istri mereka jika kutinggal mati tanpa gaji kepada sisa istri-istriku. Lalu media massa akan tertawa puas bergelimpang bahan untuk dicetak minggu itu.
Mungkin saat itu inderaku meningkat, begitu kata mereka pada orang yang sudah di ujung. Otakku berdenyut, meningkatkan kewaspadaan ini seratus kali, mencium bau kematian yang dekat setengah mati, dan mata melihat tajam seperti belati. Baru tersadar bahwa tangis itu tangisku saat memotong bawang, hilang saat sudah tertelan. Mereka menangis bahagia, jangan-jangan nanti aku dikubur berdiri, namun dijepit tak sanggup berlari, mengejar harta yang sudah dibagi-bagi dan dibawa lari. Kuharap bisa dikubur dalam kuda-kuda berlari, sedikit menyalahi kodrat seonggok mayat namun lebih tenang saat pergi. Oh saat ketika aku mati
****
Hari ini malam kamis, hari yang sangat biasa, pertengahan minggu tanpa hari raya, tidak ada yang bersuka ria, minggu biasa. Angin di luar cukup kencang, membuyarkan kabut dan embun-embun pada kaca pemondokan. Suasana ini, saat ini merupakan waktu optimal bagi otak untuk bekerja, berlarian mungkin karena bosan atau malah sudah terbiasa. Karena itu aku memperhatikan hal kecil sepele, seperti buku tebal yang menjadi panduan orang-orang beragama, doktrinasi sempurna manusia, lucu, namun sakral, sangat berbahaya. Ruangan mendingin.
Terpikir kembali skenario kedua. Saat ketika aku mati
Mungkin lebih baik menjadi soleh beragama, boleh juga menjadi rabi, nurut semua kata petua, hidup tenang tanpa gangguan, hindari tantangan, biasa saja, menjadi manusia biasa, tapi kata mereka lebih bahagia. Mungkin di malam yang dingin ini, sekeluarga berpelukan berdoa bersama, selagi mata melongo memandangi tubuhku yang sudah renta, sambil berpegangan tangan merapal mantra, doa pada Bapa. Kemudian Tuhan turun bersama para malaikatnya, berjalan berputar-putar sambil menari dari pelataran, perlahan sembari menisik malam. Membuatku merasa dikutuk, sebagai pendosa, menghitung setiap tetes dosa yang kulakukan, hidup dalam penyesalan akan-Nya.
Kemudian datang nabi dan antek-anteknya membawa lentera membaca mantra. Supaya aku pulang dengan tenang meninggalkan keluarga sanak saudara, jika saja masih ada .
Skenario mana yang lebih baik ? bisakah kutanyakan itu pada seseorang yang pernah mengalaminya dari masa depan, atau masa lalu.
Atau jangan-jangan akan mati sendiri, sepi, hanya roh yang pergi berlari meninggalkan jasad di lemari ?
Kupikir akan lebih baik jika, aku pergi saat malam bersahabat, membawa jiwa seperti anak kecil yang sibuk berlari, bolehlah perlahan dirajam malam, dadaku. Ketika seleret cahaya rembulan dan para bintang melesat menembus rerantingan pohon di depan. Menyinari seluruh badan, hingga jiwaku riang, tak terikat waktu, ruang, dan orang-orangan. Hingga kembali dalam kesempurnaan
Saat ketika aku mati, pernahkah kau terpikir kapan itu terjadi ?
Antoniusrichard
Bandung, 13oktober2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar