Terkunyah-termamah bagai remah, oleh rasa ini
karena tidak ada kata terasa, hanya ada doa
namun tidak yakin dapat kurasa, karena jauh
jauh
jauh
jauh !
Hingga tidak dapat sampai rasa bahwa rasa terasa mati dalam kesunyian tenggelam
dan mengalir dalam asumsi
asumsi lagi,
kau lagi memisahkan yang seharusnya tetangga, tidak beritensi akan hati yang bersua
oh, aku bicara perihal jarak nyata
dua tahun kau jarak-an yang tersentuh
seakan surga neraka hanya berjarak di dalam dunia tetangga
tetangga hati
dasar asumsi !
Hampa tidak berpijak juga sia-sia, dan aku tidak peduli nasib bumi
apakah dia lelah berputar ? atau harus bersalto dua puluh dua kali hingga puas akan diameter tubuhnya yang menyesakkan. Mencabik dan menikam-nikam inti dari perangkat tulang otot rapuh runtuh
Kini deru nafasku bersatu, dengan bisikan bocah bermain bola di depan rumah itu.
nafas itu, nafas yang hanya ingin bahagia, oh, tentu tanpa ada lagi asumsi berjudul "tak berjodoh" yang bisa kau beli murah di kaki lima
Kini deru nafasku, mengucur, bukan air mata, darah, atau klise mereka panggil harapan
Kini deru nafasku menguak labirin dimensi ketiga dalam kehidupan cinta yang keempat.
ketiga adalah dunia abstrak layaknya kau temukan sebuah sandaran, namun ia beroda dan tetap merona,
seolah mimpi namun bukan ilusi
Kini deru nafasku, berlayar bersama pesan yang mengalun berlabuh di sana
di tempatmu, oh ! atau tidak di tanah terjamah, tanah harapan, atau apapun !
apapun agar ada jawaban atas segala ketidak jelasan kehampaan
dan Kini deru nafasku membeku dalam wajah yang kaku, melewati malam-malam pilu, bunyi monoton berakhiran sama mengakhiri kata-kata puitis zaman dahulu, oh
sungguh klasik
Tuhan sedang bercanda, dan Dia tertawa. Atas dua tahun neraka yang tadinya dikira tanda-tanda,
yang mana tanda itu menyiksa sampai aku menelan sumsum dalam aliran darah
Tiada tara, dan apakah Dia kini murka ? karena saat kusadari wajah itu tidak di sana, yang meski ia terbang pulang , takut tak kurasa jiwa yang sama
Kumohon Tuhan, Jangan Bercanda !
karena tidak ada kata terasa, hanya ada doa
namun tidak yakin dapat kurasa, karena jauh
jauh
jauh
jauh !
Hingga tidak dapat sampai rasa bahwa rasa terasa mati dalam kesunyian tenggelam
dan mengalir dalam asumsi
asumsi lagi,
kau lagi memisahkan yang seharusnya tetangga, tidak beritensi akan hati yang bersua
oh, aku bicara perihal jarak nyata
dua tahun kau jarak-an yang tersentuh
seakan surga neraka hanya berjarak di dalam dunia tetangga
tetangga hati
dasar asumsi !
Hampa tidak berpijak juga sia-sia, dan aku tidak peduli nasib bumi
apakah dia lelah berputar ? atau harus bersalto dua puluh dua kali hingga puas akan diameter tubuhnya yang menyesakkan. Mencabik dan menikam-nikam inti dari perangkat tulang otot rapuh runtuh
Kini deru nafasku bersatu, dengan bisikan bocah bermain bola di depan rumah itu.
nafas itu, nafas yang hanya ingin bahagia, oh, tentu tanpa ada lagi asumsi berjudul "tak berjodoh" yang bisa kau beli murah di kaki lima
Kini deru nafasku, mengucur, bukan air mata, darah, atau klise mereka panggil harapan
Kini deru nafasku menguak labirin dimensi ketiga dalam kehidupan cinta yang keempat.
ketiga adalah dunia abstrak layaknya kau temukan sebuah sandaran, namun ia beroda dan tetap merona,
seolah mimpi namun bukan ilusi
Kini deru nafasku, berlayar bersama pesan yang mengalun berlabuh di sana
di tempatmu, oh ! atau tidak di tanah terjamah, tanah harapan, atau apapun !
apapun agar ada jawaban atas segala ketidak jelasan kehampaan
dan Kini deru nafasku membeku dalam wajah yang kaku, melewati malam-malam pilu, bunyi monoton berakhiran sama mengakhiri kata-kata puitis zaman dahulu, oh
sungguh klasik
Tuhan sedang bercanda, dan Dia tertawa. Atas dua tahun neraka yang tadinya dikira tanda-tanda,
yang mana tanda itu menyiksa sampai aku menelan sumsum dalam aliran darah
Tiada tara, dan apakah Dia kini murka ? karena saat kusadari wajah itu tidak di sana, yang meski ia terbang pulang , takut tak kurasa jiwa yang sama
Kumohon Tuhan, Jangan Bercanda !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar