pikiran
substansi semua kehidupan ?
jati diri dari sebuah transendensi ?
mengulik arti diri ? akumulasikan !
katanya
hati mati, dia terbunuh
dominasi akal tiada henti
hingga hanya bisa tegap berdiri, terhenti
menggerinjang kejang hidup kejam tak tertahan
katanya
maaf jika hanya seluas ini, cakupan dari kemampuan yang kau panggil dia
mengukur
tipu daya habis kau tak mampu selami, jati diri
karena hati sudah mati, lagi-lagi katanya
aku yang tikam,
begitu saja , cepat dan bersih, noda tak terpercik, tidak jua hangat
seakan eksistensi itu tercipta tidak
ternyata aku terbangun dari pejam, hanya sebuah mimpi
dan hati sudah berada dalam gelas di sebelah kiri
substansi semua kehidupan ?
jati diri dari sebuah transendensi ?
mengulik arti diri ? akumulasikan !
katanya
hati mati, dia terbunuh
dominasi akal tiada henti
hingga hanya bisa tegap berdiri, terhenti
menggerinjang kejang hidup kejam tak tertahan
katanya
maaf jika hanya seluas ini, cakupan dari kemampuan yang kau panggil dia
mengukur
tipu daya habis kau tak mampu selami, jati diri
karena hati sudah mati, lagi-lagi katanya
aku yang tikam,
begitu saja , cepat dan bersih, noda tak terpercik, tidak jua hangat
seakan eksistensi itu tercipta tidak
ternyata aku terbangun dari pejam, hanya sebuah mimpi
dan hati sudah berada dalam gelas di sebelah kiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar