In the end , your blog'll be your last listener

Minggu

pesan pada ayah

sejak kapan aku mengenal waktu ?
terakhir kudapati di arah barat aku mengetahui
cara kerja abstrak tak tersentuh

bilamana ia hidup dan terstruktur
ijinkan aku bertanya
jangan terbang atau menunduk merayap menghindar
kuasa daya apa kupunya menguak daya hidupku pun tak bisa

jadi jawab aku !

jangan kau sayat lidah itu hingga aku mati tanpa daya
menanti kata yang tak pernah ada, jawaban

jika ini saat terakhir yang kupunya
bukan untuk bernafas atau menangis
namun untuk memeluk ayah dan menangis
berbeda ! tiris air ini bersinar

bangga adalah suatu kepalsuan akan daya ukur subjektif tak pernah faktual
namun kolom itulah banggaku, akan hidup dan kedip pandanganku,
sejak mengetik ini. sampai seseorang mengetiknya untukku

mengapa pria tidak boleh menangis? mencubit hak hatiku saat ini
bahwa aku rindu, dan tak ingin berpisah
ayah jangan cepat pergi
karena kau hanya satu,
dan kau langka

kau nafasku untuk terus bangun dan berdiri, meraba pantatku dan menyubitnya
teriakan " hey ayo bangun, hidupmu sudah dimulai"
namun apa yang kulakukan

hancur, lemah rapuh tanpa daya ku mahkluk hina
keluh kesah saja serapah meluncur menembus bibirku

"aku hanya ingin kau bahagia , semua keluarga ini " katamu, sembari menatap bangga
anakmu yang hina dan lemah ini
lalu apa yang sudah substansi dari ribuan nafsu ini lakukan ?

"kau selalu membuatku bangga", akan apa ?
akan kebanggaan menyebutmu sebagai ayah yang membanggakan ? tidak !
mendadak mati daya ku tanpa berbekas niat ini di udara, selabil itu cita-cita dan pilar
yang disebut prinsip

tahunan kau membunuh ego, meluluhlantahkan semua rasa sakit, membuang lalu mengubur jua harga diri
dalam, dalam segali hingga tak dapat kugali
tertanam nisan di atasnya. DEMI MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK
Bodoh ! Irlander ! di mana mimpimu ? harus hancur demi diriku dan waktu mu

aku tak kenal kau, tapi jika kau ada
waktu
bawa aku saat aku bisa membuat dirinya terutama diriku
mengatup bibir dan membasahi mata ini, dengan pandangan bangga
dan ku tahu ia tak gagal, hidupnya tak gagal
aku adalah kerikil dalam tumpukan permata keberhasilanmu
abstrak memang,peleburan sempurna.

maaf
bertahanlah
ini doa anakmu
kau tak gagal, salah tak satupun.
sumpahku buat mu bangga, jangan pergi
dan kau waktu yang hina ! kelenggangan yang kutawarkan, sebelum kutarik nyawamu
jangan sentuh dia



kepada seluruh cinta dan keluruhan di bumi bola mataku
kuharap di sana kau membacanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar