Kini
Angin bertiup lewati hari
Hei
Dia sapaku, sembari menerbangi dedaunan di pekarangan itu
Senyum balasku dari toko buku
Membaca menghabiskan waktu
Waktuku
Waktu senggang
Waktu berhargaku
Halo kau menyianyiakan diriku
Sapa sang waktu
Apa yang kau inginkan dari padaku ?
Kau mendambakan diriku, berdoa temukan adaku
Tapi kini kau siasiakan
Tak ada arti hadirku
Kau duduk sendiri tak berarti
Untuk apa kau mencariku,
Aku terlalu sibuk menghampiri orang lain
Sudah lepaskan aku dan selesaikan kat mu
Balas bimbangku
Sudah kugunakan kau untuk kesempurnaanku
Cukupkah itu ? Balasnya
Sudah kupakai kau untuk tertawa dengan saudara sependeritaan sahabatku
Itukah yang mengisi hatimu ??
Bisu hati tak ingin menjawab
Hei apa jawaban yang kupunya
Lalu angin kembali menegurku kali ini bersama tawa guntur sahabatnya
Mengapa kau di sini ??
Hampa
Mengapa kau tak menjawab ?? Bodohkah kau ?
Kurasa.....
Sejenak hening melingkupi dunia
Kutemukan diriku dalam kesiasiaan
Waktu seakan berhebti berputar namun sial aku tak terjebak
Seakan kulihat wajah orangorang di sekitarku
Apa perasaan ini ? ..
HAMPA
Untuk apa segala kesempurnaan kebahagiaan
Pucat pucat pasi bisu diam dan hati tetap tak menjawab
Sedang sang waktu yang luang semakin merasa tak dihiraukan
Bolehkah aku pergi kau tidak memerlukan waktuku ?
Tidak harapku
Kembali berdiri, perlahan tapi pasti
Lari tinggalkan toko itu dengan ruang dan waktu yang berjalan kembali dengan sangat lambat
Jerit waktu menagih jawaban
Jerit hati tak menemukannya
Tawa angin guntur yang semakin keras menertawakan keadaanku
Semakin keras, hingga langit pun prihatin
Ia menangis membasahi jalan itu
Aku tetap bimbang
Tak ada jawaban sedang menerobos hujan dengan segala dayaku,
Entah tak ada intensi berteriak
Tak ada intensi menangis
Waktu yang marah pun berlari meninggalkan
Sialan kau waktu jalang !!
Tunggu aku hendak ke mana kau
Kutemukan diriku di ruangan yang sangat kukenal
Kamar kosku
Suara televisi memecah keheningan ruang
Buku dan modul merintangi kamar
Kurasa aku tenang melarikan diri lari lari lari
Dari yang menertawakan dan menangisi keadaan ini
Awan pun tertawa juga, kulihat ia terbelah
Indah
Menarik
Namun ia menakutiku
Akhirnya hatiku tetap tak menjawab dan ingin lari,
Kuambil buku dan pensil
Menggambar
Hanya itu pelarianku
Aku punya Tuhan dan keluarga
Serta semua sahabatku
Mengapa hampa ?
Mengapa waktu tetap marah dan berlali
Meski ini waktu paling membahagiakan
Namun ternyata suara memecah kegalauan
Ternyata sang hati mencerah
Ia memberikan jawaban
Atas apa yang terjadi
Mungkin ia hanya kesepian
Bukan karena tidak ada yang mengasihi, memperhatikan, dan mencintainya
Namun karena sang hati tidak mencurahkan kasih
Tidak khawatir akan hati seseorang
Tidak rindu
Sehingga ia sakit
Parah
Hingga membuatku galau
Tapi pria harus hidup dengan takdir dan prinsip
Inilah takdirku terkutuklah aku
Biar kutunggu sampai Tuhan buka jalanku
Mendiamkan para angin dan guntur
Menyediakan sang waktu luang kembali
Dan saat itu tiba
Pasti kutemukan Ia
Yang menyembuhkan luka hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar